Selasa, 05 Juni 2012

Strawberry Pure Love -part 2-

Share it Please
 FF SHINee

Title             : Strawberry Pure Love (part 2)
Author          : Yoshi Nathania
Cast              : Shin Min ji, Lee Taemin, Choi Minho
Genre           : Romance
POV              : Shin Min Ji POV

Glekk! Aku tersentak mendengarnya. Aku tak percaya dia menyatakan perasaannya padaku. Aduh, apa yang harus aku katakan. Aku tak tau apa yang mesti ku perbuat sekarang.
“ne? kau pasti sedang bercanda kan Minho-ah?  Hahaha.” Kataku sambil memaksakan diri untuk tertawa.
“aku tidak sedang bercanda Min Ji¬-ah. Apakah wajahku menandakan aku sedang bercanda? Aku serius, aku serius suka padamu. Aku sudah menyukaimu saat kita pertama kali bertemu. Maukah kau menjadi yeojachingu ku Min Ji-ah?” katanya dengan menatap mataku dalam.
“aa..aku..” aduh, aku tak tau apa yang harus aku katakana padanya. Memang sebelumnya aku pernah menolak pernyataan cinta dari beberapa namja. Tapi, aku tak tega untuk menolak namja ini. Ia sosok yang lembut dan penuh perhatian, walaupun dia sedikit pendiam.
“aku tak bisa Minho-ah. Aku menyukai namja lain. Jeongmal Mianhe Minho-ah. Kau namja yang baik, kau pasti bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku. Jeongmal mianhe Minho¬-ah.” Yap! Aku bisa mengatakannya juga.
Minho tidak langsung menjawab perkataanku, tapi aku bisa melihat raut kekecewaan yang tersirat di balik wajah itu. Dia tersenyum padaku. Senyum yang dipaksakan. Aku benar-benar merasa berdosa padanya. Maafkan aku Choi Minho.
“begitu rupanya. Gomawo Min Ji-ah. Kau telah jujur kepadaku, aku menghargai itu. Walaupun sebenarnya aku cukup merasa kecewa. Tapi, taka pa lah. Aku tak bisa memaksamu. Gomawo-yo¬ ¬Min Ji-ah.” Katanya sambil tersenyum tulus, semakin membuatku merasa bersalah.

Waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Aku sudah berada di rumah setelah kejadian ‘pernyataan’ tadi sore di taman. Aku tak menyangka kalau Minho akan menyatakan cintanya padaku. Aku merasa bersalah padanya. Tadi raut wajahnya seakan begitu menyedihkan.
~Hello, hello, nareum daero yongil naesseoyo..
Handphoneku berbunyi, pertanda ada telpon masuk untukku. Aku lihat layar handphoneku dan tertera nama ‘Taemin’ di sana.
“yeoboseo. Ada apa taemin-ah? Bagaimana dengan acara prom night nya?” kataku padanya
“yeoboseo. Ah, Min ji-ah. Sebenarnya tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu. Prom night nya berjalan lancar kok. Ini acaranya sudah selesai, tinggal bersih-bersih saja. Hari ini apakah kau di rumah saja seharian? Besok Minggu apa kau ada waktu? Kita jalan-jalan bersama ke taman bermain, mengganti rencana kita hari ini yang terpaksa dibatalkan. Bagaimana?” katanya panjang lebar
“baguslah kalau begitu. Jangan pulang terlalu malam, nanti eomma mu mencarimu. Tadi sore aku hanya berjalan – jalan di taman saja kok. Besok minggu? Ehm.. boleh.. “ jawabku
“okelah kalau gitu. Ehm, Min Ji-ah sudah dulu ya. Ada yang masih harus aku kerjakan.”
“oke, jangan malam-malam ya Taemin-ah. Good night. Anneyong.”
“annyeong”
Klik! Telpon kami pun terputus.
Walaupun cuma mandengar suaranya saja, tapi itu berhasil membuat hatiku lega. Sampai kapan aku harus begini? Memendam perasaanku pada orang sahabatku sendiri. Kalau aku bilang padanyatentang perasaanku ini, itu juga beresiko persahabatan kami akan putus. Aku harus bagaimana ya Tuhan. Aku benar-benar bisa gila, lebih baik aku tidur sekarang.

-besok harinya-
“ya! Min Ji-ah! Kemarilah!”
Aku menoleh dan kulihat Taemin sedang melambaikan tangannya padaku agar menghampirinya.
“ya Taemin-ah! Tidak sopan skali dirimu. Semestinya kau yang menghampiriku, bukan aku yang menghampirimu. Namja macam apa kau ini. Tidak gentle sama sekali.” Kataku padanya dengan tampang sebal.
“hei Min ji-ah, sejak kapan kau memperdulikan tentang hal sepele seperti itu?” tatapnya dengan penuh keheranan.
“ahh… anniyo.. ehm.. aa..anniyo Taemin-ah. Memangnya aku tidak boleh memperdulikan hal seperti itu?” kataku padanya, dengan penuh kebingungan dan terbata – taba
“hei, santai saja Min Ji-ah. Kau tidak perlu salting (salah tingkah) begitu. Aku cuma bercanda. Hahaha” katanya sambil tertawa.
“apa yang sedang kau tertawakan Lee Taemin! Awas kau ya! Sini aku cubit pipimu! Eugh!” hap! Gotcha! Aku cubit kedua pipi Taemin dengan sekuat tenaga. Biar saja kalau nanti dia menjadi tembem. Aku tidak peduli. Hahaha.
“hei Minho-ah! Kemarilah! Tolong bantu aku, lepaskan tangan yeoja satu ini dari pipiku. Aku mohon.” Kata taemin.
Aku menoleh ke arah Taemin melihat, dan disanalah kutemukan sosok namja yang tidak ingin kulihat saat ini. Aku masih merasa bersalah atas kejadian kemarin sore.
“hai taemin-ah, Minji¬-ah. Apa yang sedang kalian lakukan? Hahaha.. kenapa tingkah kalian begitu lucu?” kata minho padaku dan Taemin dengan senyum lebar dan tawanya yang khas itu. Tak terlihat gurat kekecewaan atau kesedihan yang ku bayangkan muncul dari wajahnya. Apakah memang dia telah melupakan kejadian kemarin itu? Semoga saja begitu.
“ehm.. anni. Kami hanya sedang bercanda saja.” Jawabku apa adanya.
“dia bohong Minho-ah! Shin Min Ji ini sedang berusaha untuk membunuhku dengan mencubit pipiku ini tanpa ampun. Tolonglah aku minho-ah yang baik hati” sambung Taemin.
“hei kau Lee Taemin! Jangan berbicara yang aneh-aneh ya! Kau terlalu membesar-besarkan! Biar saja pipimu ini bertambah lebar!” jawabku sadis dan kemudian melepaskan cubitanku dari pipinya. Aku tak mau melukai pipinya itu terlalu lama. (apaan sih? Haha)
“sudah! Hentikan kalian berdua. Ini di depan umum. Dilihat banyak orang apa kalian tidak malu?’ kata Minho pada kami sambil tersenyum.
“dia dulu nih yang mulai. Berani-beraninya menertawakan aku.” Jawabku.
“hei, kau itu yang aneh. Tingkahmu sungguh aneh hari ini. Apa kau salah minum obat tadi pagi?” jawab Taemin.
“sudah diam! tak ada habisnya kalau kalian masih terus saling berdebat dan tak ada yang mengalah.” Kata Minho bijak.
“ya sudah kalau begitu, sebaiknya kita makan sekarang. Aku sangat lapar. Kajja!” kata Taemin akhirnya.

Aku menyusuri jalan setapak yang setiap hari kulewati saat aku akan menuju ke sekolahku. Dan disampingku ada seorang namja manis yang menghiasi hari-hariku. Dia berjalan dengan tenang dan sesekali menendang batu – batu kecil di depan nya.
“besok kita jadi ke taman bermain itu?” tanyaku memulai pembicaraan.
“jadi dong! Itu kan sudah rencana kita, jangan sampai batal lagi.” Jawabnya penuh semangat.
“baiklah kalau begitu. Kita akan bersenang-senang besok! Yeay!” kataku juga dengan penuh semangat. Aku tidak sabar menunggu besok datang.

-besoknya-
Akhirnya hari ini tiba juga. Setelah jumat kemarin aku tidak jadi jalan – jalan dengan Taemin, akhirnya hari ini aku bisa jalan – jalan juga dengannya. Aku harus segera bersiap – siap, karna sekarang sudah jam 8, dan Taemin akan kesini jam 9. Hari ini aku akan memakai dress selutut yang eomma ku belikan minggu lalu. Taemin pasti juga belum pernah melihatku memakai dress ini.
~Hello, hello, nareum daero yongil naesseoyo..
Ah! Telpon dari Taemin. Mungkin dia suda di depan rumahku
“yeoboseo? Ada apa Taemin-ah? Apa kau sudah berada di depan rumahku?”
“yeoboseo Min ji-ah, aku di depan rumahmu sekarang. Keluarlah cepat!”
Klik! Telpon terputus. Padahal, aku belum sempat menjawab perkataannya. Dasar Taemin!

“hei kau Lee Taemin! Kenapa kau memutuskan telpon begitu saja? Aku belum menjawab perkataanmu tadi!” kataku sambil membukakan pintu pagar rumahku untuknya. Sepi. Dia tidak menjawab perkataanku. Aku mendongakkan wajahku agar bisa melihat wajahnya. Dia menundukkan wajahnya dan terlihat murung. Bukan seperti Taemin yang biasanya.
“Taemin-ah, ada apa? Kenapa kau begitu murung? Apakah kau sedang sakit?” tanyaku padanya.
“anniyo, mianhe Min Ji-ah, aku tadi habis dimarahi eomma ku. Makanya aku seperti ini.” Katanya sambil tetap menundukkan kepalanya.
“memangnya apa yang kau lakukan sampai eomma mu marah begitu?” tanyaku padanya.
Ini tidak seperti Taemin, biasanya dia akan tetap jadi namja yang ceria walaupun banyak masalah yang dihadapinya. Apalagi, ini hanya karena eomma nya memarahinya. Bukannya apa, tapi Taemin sudah sering dimarahi oleh eommanya. Aku jadi penasaran. Seperti apa kemarahan ahjuma pada Taemin, sampai-sampai Taemin murung seperti ini.
Taemin tidak menjawab pertanyaanku, tapi dia tetap diam dan bahkan tidak melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahku.
“ehm, ya sudahlah Taemin-ah. Nanti pasti eomma mu akan memaafkanmu kok. Kamu tenang saja. Kalau gitu, sebaiknya kita berangkat sekarang saja, biar tidak terlalu lama menunggu bis nya datang. Kajja!” kataku, berharap dia melupakan masalahnya itu.
“tidak perlu. Kita berangkat naik ini.” Katanya sambil menunjuk sebuah mobil sedan yang terparkir di depan rumahnya.
“mobil siapa itu Taemin-ah?” tanyaku heran. Setauku mobil Taemin itu CRV dan bukannya sedan.
Taemin tidak menjawab pertanyaanku, tapi malah berjalan membukakan pintu untukku. Aku mengikutinya dan masuk ke dalam mobil itu. Sepertinya dia benar-benar tidak dalam mood yang baik sekarang.

-part 2 end, to be continue-

Kenapa ya sama Taemin? Apa yang sedang dia pikirkan? Padahal dia itu namja yang ceria ya’kan. Terus knp kok dia jadi murung gitu ya? Eh, ternyata Minho cepet juga ngelupain pernyataannya itu ke Min ji. Padahal kan baru kemarinnya dia nembak si Min Ji. Trs, gimana juga ya acara jalan-jalan Taemin sama MinJi. Tunggu di part selanjutnya ya chingudeul. Jangan lupa kasih komentar dan kritik ya. Jangan jadi silent reader chingu. Gomawo ^^

2 komentar:

Popular Posts

Blogroll

About